Pengembangan Model Kolaborasi Multipihak untuk Pengelolaan Hutan Konservasi Berkelanjutan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat di Twa Kerandangan

Authors

  • Aldi Pradipta Novadiano Pratedika PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandar Udara Internasional Lombok
  • Depi Jayanti PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandar Udara Internasional Lombok
  • Abu Bakar Sidiq PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandar Udara Internasional Lombok
  • Erly Yeniska Hermitasari PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandar Udara Internasional Lombok
  • Nice Nurhayati Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) Hsamangun

DOI:

https://doi.org/10.71456/adc.v5i1.2588

Keywords:

Keanekaragaman Hayati, Konservasi Kolaboratif, Pengelolaan Kawasan Konservasi, TWA Kerandangan

Abstract

Pengelolaan keanekaragaman hayati di kawasan konservasi membutuhkan pembagian peran yang jelas karena perlindungan spesies dan habitat berkaitan dengan kewenangan pengelola, dukungan sumber daya, aktivitas wisata, dan kehidupan masyarakat sekitar. Taman Wisata Alam Kerandangan di Kabupaten Lombok Barat memiliki nilai ekologis yang ditunjukkan oleh keberadaan Celepuk Rinjani (Otus jolandae), kelelawar pemakan buah, kupu-kupu, serangga tanah, serta vegetasi penyusun habitat. Akan tetapi, informasi tersebut masih tersebar dalam berbagai penelitian dan belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kerangka pengembangan program yang terintegrasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi dan kebutuhan pengelolaan keanekaragaman hayati serta merumuskan model kolaborasi antara perusahaan, pengelola kawasan, dan masyarakat di TWA Kerandangan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui kajian literatur integratif. Data bersumber dari artikel ilmiah, buku, skripsi, prosiding, dokumen resmi, hasil pemetaan sosial, dan dokumen internal PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL. Data dianalisis secara tematik berdasarkan potensi keanekaragaman hayati, kesenjangan data, kebutuhan program, peran para pihak, dan tahapan pengelolaan. Hasil kajian menghasilkan model kolaborasi lima tahap, yaitu penyusunan baseline, perencanaan bersama, pelaksanaan program, monitoring dan evaluasi, serta penguatan keberlanjutan. Perusahaan ditempatkan sebagai katalisator sumber daya, kapasitas, dan jejaring; pengelola kawasan sebagai pemegang kewenangan, pengarah teknis, dan validator; sedangkan masyarakat sebagai sumber pengetahuan lokal, pelaksana kegiatan partisipatif, pemandu, dan kader konservasi. Model tersebut dapat menjadi dasar pengembangan program yang lebih terarah, terukur, partisipatif, dan selaras dengan fungsi konservasi TWA Kerandangan

References

Aguinis, H., & Glavas, A. (2012). What we know and do not know about corporate social responsibility: A review and research agenda. Journal of Management, 38(4), 932–968. https://doi.org/10.1177/0149206311436079

Alawiyah, R., Santoso, D., & Ilhamdi, M. L. (2024). Diversity of butterfly species (Subordo Rhopalocera) in Kerandangan Natural Tourism Park as high school biology enrichment material. Jurnal Biologi Tropis, 24(1). https://doi.org/10.29303/jbt.v24i1.6425

Ansell, C., & Gash, A. (2008). Collaborative governance in theory and practice. Journal of Public Administration Research and Theory, 18(4), 543–571. https://doi.org/10.1093/jopart/mum032

Armitage, D. R., Plummer, R., Berkes, F., Arthur, R. I., Charles, A. T., Davidson-Hunt, I. J., Diduck, A. P., Doubleday, N. C., Johnson, D. S., Marschke, M., McConney, P., Pinkerton, E. W., & Wollenberg, E. K. (2009). Adaptive co-management for social–ecological complexity. Frontiers in Ecology and the Environment, 7(2), 95–102. https://doi.org/10.1890/070089

Berkes, F. (2009). Evolution of co-management: Role of knowledge generation, bridging organizations and social learning. Journal of Environmental Management, 90(5), 1692–1702. https://doi.org/10.1016/j.jenvman.2008.12.001

Borrini-Feyerabend, G., Dudley, N., Jaeger, T., Lassen, B., Broome, N. P., Phillips, A., & Sandwith, T. (2013). Governance of protected areas: From understanding to action. IUCN.

Bowen, G. A. (2009). Document analysis as a qualitative research method. Qualitative Research Journal, 9(2), 27–40. https://doi.org/10.3316/QRJ0902027

Dakwah, M. M., Roodhi, M. N., Abdurrahman, A., & Kurnia, J. (2025). Penguatan kapasitas pemandu wisata bird watching di kawasan konservasi TWA Kerandangan. Empowerment: Jurnal Pengabdian pada Masyarakat, 5(2), 135–143. https://doi.org/10.51700/empowerment.v5i2.1289

Dudley, N. (Ed.). (2008). Guidelines for applying protected area management categories. IUCN.

Emerson, K., Nabatchi, T., & Balogh, S. (2012). An integrative framework for collaborative governance. Journal of Public Administration Research and Theory, 22(1), 1–29. https://doi.org/10.1093/jopart/mur011

Fajri, S. R., Armiani, S., Sukri, A., Kurnianingsih, K., Maryanto, I., & Afifah, K. N. (2023). Diversity of fruit bats (Pteropodidae) in nature tourism park, Lombok Island, West Nusa Tenggara. In Proceedings of the 3rd International Conference on Education and Technology (pp. 106–116). Atlantis Press. https://doi.org/10.2991/978-2-38476-056-5_13

Fernández-Llamazares, Á., Fraixedas, S., Brias-Guinart, A., & Terraube, J. (2020). Principles for including conservation messaging in wildlife-based tourism. People and Nature, 2(3), 596–607. https://doi.org/10.1002/pan3.10114

Ilhamdi, M. L., Syazali, M., & Rizki, B. F. S. (2024). Diversity of grasshopper (Hexapoda: Orthoptera) in the conservation area of Kerandangan Nature Park, Senggigi, West Lombok. Jurnal Pijar MIPA, 19(2). https://doi.org/10.29303/jpm.v19i2.6593

Lockwood, M. (2010). Good governance for terrestrial protected areas: A framework, principles and performance outcomes. Journal of Environmental Management, 91(3), 754–766. https://doi.org/10.1016/j.jenvman.2009.10.005

Manurung, R. U., Mahrus, M., & Lestari, T. A. (2023). Diversity of Coleoptera order soil insects in Kerandangan Nature Park area. Jurnal Biologi Tropis, 23(1). https://doi.org/10.29303/jbt.v23i1.5901

Millennium Ecosystem Assessment. (2005). Ecosystems and human well-being: Synthesis. Island Press.

Muttaqin, W. (2018). Karakteristik habitat Celepuk Rinjani (Otus jolandae) di Taman Wisata Alam Kerandangan [Skripsi, Universitas Mataram]. Repositori Universitas Mataram.

Ostrom, E. (1990). Governing the commons: The evolution of institutions for collective action. Cambridge University Press.

Permatasari, B. D., Lestari, N. A., Candri, D. A., & Aryanti, E. (2025). Analisis pengelolaan kawasan Taman Wisata Alam Kerandangan, Lombok Barat. Samota Journal of Biological Sciences, 4(1), 31–38.

Plummer, R., & FitzGibbon, J. (2004). Co-management of natural resources: A proposed framework. Environmental Management, 33, 876–885. https://doi.org/10.1007/s00267-003-3038-y

Pretty, J. N. (1995). Participatory learning for sustainable agriculture. World Development, 23(8), 1247–1263. https://doi.org/10.1016/0305-750X(95)00046-F

PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL, & LPPM Hsamangun. (2026a). Hasil diskusi buku ISBN dan jurnal nasional AFT BIL x LPPM Hsamangun [Dokumen internal].

PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL, & LPPM Hsamangun. (2026b). Dari data menjadi dampak: Transformasi pengelolaan keanekaragaman hayati TWA Kerandangan berbasis baseline, monitoring, evaluasi, dan roadmap berkelanjutan [Dokumen perencanaan internal].

PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL, & LPPM Hsamangun. (2026c). Matriks pemetaan sosial dan analisis pemangku kepentingan Desa Senggigi [Dokumen internal].

Reed, M. S. (2008). Stakeholder participation for environmental management: A literature review. Biological Conservation, 141(10), 2417–2431. https://doi.org/10.1016/j.biocon.2008.07.014

Rosinta, M., Artayasa, I. P., & Ilhamdi, M. L. (2021). Diversity of soil insect in Kerandangan Ecotourism Nature Park area, West Lombok Island. Jurnal Biologi Tropis, 21(3), 870–877. https://doi.org/10.29303/jbt.v21i3.2975

Schwoerer, T., & Dawson, N. G. (2022). Small sight—Big might: Economic impact of bird tourism shows opportunities for rural communities and biodiversity conservation. PLOS ONE, 17(7), e0268594. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0268594

Spring, J. (2023). Nature-based tourism and guided wildlife tours: Designing wildlife tour experiences that optimise sustainable learning opportunities. Journal of Ecotourism, 22(1), 187–207. https://doi.org/10.1080/14724049.2022.2098963

Tim CDO AFT BIL. (2026). Kompilasi data keanekaragaman hayati Taman Wisata Alam Kerandangan [Dokumen internal]. PT Pertamina Patra Niaga AFT BIL.

Torraco, R. J. (2005). Writing integrative literature reviews: Guidelines and examples. Human Resource Development Review, 4(3), 356–367. https://doi.org/10.1177/1534484305278283

Whittemore, R., & Knafl, K. (2005). The integrative review: Updated methodology. Journal of Advanced Nursing, 52(5), 546–553. https://doi.org/10.1111/j.1365-2648.2005.03621.x

Wondirad, A., Tolkach, D., & King, B. (2020). Stakeholder collaboration as a major factor for sustainable ecotourism development in developing countries. Tourism Management, 78, 104024. https://doi.org/10.1016/j.tourman.2019.104024

Downloads

Published

2026-10-04

How to Cite

Pratedika, A. P. N., Jayanti, D., Sidiq, A. B., Hermitasari, E. Y., & Nurhayati, N. (2026). Pengembangan Model Kolaborasi Multipihak untuk Pengelolaan Hutan Konservasi Berkelanjutan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat di Twa Kerandangan. JPEMAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(1), 75–85. https://doi.org/10.71456/adc.v5i1.2588