Dialektika Akal dan Wahyu: Pemikiran Filosofis Tentang Keimanan dan Ketuhanan dalam Islam
DOI:
https://doi.org/10.71456/jis.v3i3.1525Keywords:
Akal, Wahyu, Filsafat Islam, Keimanan, KetuhananAbstract
Penelitian ini membahas dialektika akal dan wahyu dalam pemahaman keimanan dan ketuhanan berdasarkan pemikiran para filsuf Islam, khususnya Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, dan Mulla Sadra. Kajian dilakukan melalui metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat Islam tidak memposisikan akal dan wahyu sebagai dua sumber yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam memahami kebenaran ilahiah. Al-Farabi dan Ibn Sina menekankan peran akal sebagai instrumen rasional untuk mengenal Tuhan melalui pendekatan metafisik. Al-Ghazali memperlihatkan keterbatasan akal dan pentingnya wahyu serta pengalaman spiritual sebagai jalan ma’rifat. Ibn Rusyd menegaskan adanya harmoni akal dan wahyu karena keduanya berasal dari Tuhan yang sama. Mulla Sadra kemudian menawarkan sintesis yang lebih integratif melalui al-hikmah al-muta’aliyah, yang menggabungkan akal, spiritualitas, dan teks wahyu dalam pencarian kebenaran metafisik. Penelitian ini menegaskan bahwa dalam Islam, keimanan yang kukuh membutuhkan dukungan rasionalitas, dan rasionalitas sejati harus sejalan dengan kebenaran wahyu. Dialektika akal dan wahyu menjadi fondasi epistemologis yang memperkaya pemahaman teologis mengenai eksistensi Tuhan dan hakikat keimanan dalam tradisi intelektual Islam.
References
Agustina, A., Suwandewi, A., Tunggal, T., & Daiyah, I. (2022). Sisi Edukatif Pendidikan Islam Dan Kebermaknaan Nilai Sehat Masa Pandemi Covid-19 Di Kalimantan Selatan. JIS: Journal Islamic Studies, 1(1).
Al-Fārābī. (1998). al-Madīnah al-Fāḍilah. Beirut: Dār al-Masyriq.
Al-Ghazālī. (2000). Tahāfut al-Falāsifah. Cairo: Dār al-Ma‘ārif.
Al-Kindī. (1986). On First Philosophy. Albany: SUNY Press.
Fakhry, M. (2004). A History of Islamic Philosophy. Columbia University Press.
Ibn Rushd. (1997). Tahāfut al-Tahāfut. London: E.J. Brill.
Ibn Sīnā. (1952). al-Shifā’. Cairo: Dār al-Kutub.
Latifah, L. (2020). Makna Isi Kandungan Surah Al-A’raf Ayat 179 dalam Konsep dan Karakteristik Pendidikan Islam. Jurnal Terapung: Ilmu-Ilmu Sosial, 2(1).
Latifah, L., & Ngalimun, N. (2023). Pemulihan Pendidikan Pasca Pandemi Melalui Transformasi Digital Dengan Pendekatan Manajemen Pendidikan Islam Di Era Society 5.0. Jurnal Terapung: Ilmu-Ilmu Sosial, 5(1), 41-50.
Latifah, L., Zwagery, R. V., Safithry, E. A., & Ngalimun, N. (2023). Konsep dasar pengembangan kreativitas anak dan remaja serta pengukurannya dalam psikologi perkembangan. EduCurio: Education Curiosity, 1(2), 426-439.
Leaman, O. (1999). An Introduction to Classical Islamic Philosophy. Cambridge University Press.
Nasr, S. H. (1993). An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines. Thames & Hudson.
Ngalimun, H. (2017). Ilmu Komunikasi Sebuah Pengantar Praktis. Banjarmasin: Pustaka Banua.
Ngalimun, N. (2022). Bahasa Indonesia Untuk Penulisan Karya Ilmiah. EduCurio: Education Curiosity, 1(1), 265-278.
Ngalimun, N., & Rohmadi, Y. (2021). Harun nasution: sebuah pemikiran pendidikan dan relevansinya dengan dunia pendidikan kontemporer. Jurnal Terapung: Ilmu-Ilmu Sosial, 3(2), 55-66.
Rahman, F. (1975). Islamic Methodology in History. Oxford University Press.Rosenthal, F. (2007). Knowledge Triumphant. E.J. Brill.
Zwagery, R. V., Safithri, E. A., & Latifah, N. (2020). Psikologi Perkembangan: Konsep Dasar Pengembangan Kreatifitas Anak. Yogyakarta: Parama Ilmu.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Gt. Alfian, & Latifah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.






