Gambaran Kepatuhan Pasien Diabetes Melitus pada Peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) di Puskesmas Kramatmulya Kuningan Jawa Barat
DOI:
https://doi.org/10.71456/jik.v5i1.2499Keywords:
Diabetes melitus, PROLANIS, Kepatuhan, Puskesmas KramatmulyaAbstract
Mengetahui gambaran kepatuhan pasien diabetes melitus pada peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) di Puskesmas Kramatmulya Kabupaten Kuningan tahun 2025 berdasarkan karakteristik responden dan tingkat kepatuhan mengikuti kegiatan PROLANIS. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan jumlah sampel sebanyak 39 peserta PROLANIS yang memenuhi kriteria penelitian. Data diperoleh dari rekam medis dan data kehadiran kegiatan PROLANIS, kemudian dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi serta persentase. Seluruh responden merupakan pasien diabetes melitus tipe 2 (100%). Mayoritas responden berusia 45–59 tahun sebanyak 28 responden (71,8%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 27 responden (69,2%), memiliki riwayat diabetes melitus dalam keluarga sebanyak 29 responden (74,4%), dan memiliki indeks massa tubuh kategori obesitas sebanyak 21 responden (53,8%). Seluruh responden memiliki status sosial ekonomi rendah (100%), sebagian besar berpendidikan Sekolah Dasar sebanyak 20 responden (51,3%), serta tidak bekerja sebanyak 27 responden (69,2%). Berdasarkan kepatuhan mengikuti kegiatan PROLANIS, sebanyak 36 responden (92,3%) termasuk kategori patuh, sedangkan 3 responden (7,7%) termasuk kategori tidak patuh. Sebagian besar pasien diabetes melitus peserta PROLANIS di Puskesmas Kramatmulya memiliki tingkat kepatuhan yang baik dalam mengikuti kegiatan PROLANIS. Tingginya kepatuhan peserta diharapkan dapat mendukung keberhasilan pengelolaan diabetes melitus, meningkatkan kualitas hidup pasien, serta membantu mencegah terjadinya komplikasi melalui pemantauan kesehatan dan edukasi yang berkesinambungan.
References
American Diabetes Association Professional Practice Committee. (2024). Standards of care in diabetes—2024. Diabetes Care, 47(Suppl. 1), S1–S321. https://doi.org/10.2337/dc24-SINT
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan. (2017). Panduan praktis PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis). BPJS Kesehatan.
BPJS Kesehatan. (2022). Panduan pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS). BPJS Kesehatan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan. (2023). Profil kesehatan Kabupaten Kuningan tahun 2023. Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan.
DeFronzo, R. A. (2022). Pathogenesis of type 2 diabetes mellitus. Medical Clinics of North America, 106(2), 229–243.
International Diabetes Federation. (2024). IDF diabetes atlas (11th ed.). International Diabetes Federation.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Lasmawati, E., Supriyanti, L., & Widodo, A. (2023). Analisis faktor yang berhubungan dengan kejadian diabetes melitus tipe 2. Jurnal Keperawatan, 15(2), 112–120.
Nuryantini, P., Setiyono, A., & Nissa, N. A. (2024). Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Purbaratu. Jurnal Gizi Indonesia, 12(1), 33–41.
Nurfiqrul, N., Mutmainna, A., & Abrar, E. A. (2024). Analisis faktor risiko kejadian diabetes melitus tipe II pada pasien di wilayah kerja Puskesmas Pampang. Jurnal Ilmiah Medis Pelamonia, 4(5), 45–55.
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. (2025). Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 dewasa di Indonesia. PB PERKENI.
World Health Organization. (2023). Diabetes: Key facts. World Health Organization.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Sheila Pamelia, Nanang Ruhyana, & Menik Herdwiyanti

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.








