Peran Regulasi Emosi terhadap Toxic Online Disinhibition pada Remaja Pengguna Media Sosial

Authors

  • Tsara Nafisah Azzahra Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Esa Unggul, Indonesia
  • Kamalia Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Esa Unggul, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.71456/jik.v5i1.2621

Keywords:

regulasi emosi, cognitive reappraisal, expressive suppression, toxic online disinhibition, remaja, media sosial

Abstract

Penggunaan media sosial yang tinggi pada remaja dapat mendorong munculnya toxic online disinhibition, yaitu kecenderungan individu menunjukkan perilaku negatif, agresif, impulsif, dan kurang terkontrol ketika berinteraksi di ruang media sosial. Salah satu faktor psikologis yang diduga berperan terhadap perilaku tersebut adalah regulasi emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran regulasi emosi yang terdiri atas cognitive reappraisal dan expressive suppression terhadap toxic online disinhibition pada remaja pengguna media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 389 remaja berusia 13–18 tahun yang aktif menggunakan media sosial. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling. Regulasi emosi diukur menggunakan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), sedangkan toxic online disinhibition diukur menggunakan skala Toxic Online Disinhibition. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cognitive reappraisal dan expressive suppression secara simultan berperan signifikan terhadap toxic online disinhibition, dengan nilai F(2,386) = 33,752; p < 0,001 dan R² = 0,149. Hal ini menunjukkan bahwa kedua strategi regulasi emosi secara bersama-sama mampu menjelaskan 14,9% variasi toxic online disinhibition. Secara parsial, cognitive reappraisal tidak berperan signifikan terhadap toxic online disinhibition (β = −0,089; p = 0,133), sedangkan expressive suppression berperan positif dan signifikan (β = 0,433; p < 0,001). Dengan demikian, semakin tinggi kecenderungan remaja menggunakan expressive suppression, semakin tinggi pula kecenderungan munculnya toxic online disinhibition.

References

Aldao, A., & Dixon-Gordon, K. L. (2014). Broadening the scope of research on emotion regulation strategies and psychopathology. Cognitive Behaviour Therapy, 43(1), 22–33. https://doi.org/10.1080/16506073.2013.816769

Ardra, O., & Hendrawan, D. (2025). Cognitive Flexibility Scale for Indonesian adolescents: Reliability and validity. Sains Humanika, 17(3-2). https://doi.org/10.11113/sh.v17n3- 2.2266

Arini, N. Y., & Nur, H. (2025). Scroll dan suasana hati: Pengaruh intensitas penggunaan media sosial terhadap regulasi emosi remaja. PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, 4(4), 6527–6537. https://doi.org/10.56799/peshum.v4i4.9578

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2024). Pengguna internet di Indonesia meningkat di 2024. APJII.

Azwar, S. (2017). Penyusunan skala psikologi (Edisi ke-2). Pustaka Pelajar.

Breusch, T. S., & Pagan, A. R. (1979). A simple test for heteroscedasticity and random coefficient variation. Econometrica, 47(5), 1287–1294. https://doi.org/10.2307/1911963

Casale, S., Fioravanti, G., & Caplan, S. (2015). Online disinhibition: The mediating role of emotion regulation. Journal of Media Psychology, 27(4), 170–177. https://doi.org/10.1027/1864-1105/a000136

Gross, J. J. (2015). Emotion regulation: Current status and future prospects. Psychological Inquiry, 26(1), 1–26. https://doi.org/10.1080/1047840X.2014.940781

Gross, J. J., & John, O. P. (2003). Individual differences in two emotion regulation processes: Implications for affect, relationships, and well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 85(2), 348–362. https://doi.org/10.1037/0022-3514.85.2.348

Gullone, E., Hughes, E. K., King, N. J., & Tonge, B. (2010). The normative development of emotion regulation strategy use in children and adolescents: A 2-year follow-up study. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 51(5), 567–574. https://doi.org/10.1111/j.1469-7610.2009.02183.x

Haag, A.-C., Bagrodia, R., & Bonanno, G. A. (2024). Emotion regulation flexibility in adolescents: A systematic review from conceptualization to methodology. Clinical Child and Family Psychology Review, 27(3), 697–713. https://doi.org/10.1007/s10567-024-00483-6

Hasanah, R. A., & Latifah, M. (2021). Investigasi online resilience remaja: Eksplanasi peranan karakteristik remaja, karakteristik keluarga, kelekatan remaja-orang tua, regulasi emosi, dan hubungan persahabatan. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen, 14(3), 270–281. https://doi.org/10.24156/jikk.2021.14.3.270

Hollenstein, T., & Faulkner, K. (2024). Adolescent digital emotion regulation. Journal of Research on Adolescence, 34(4), 1341–1351. https://doi.org/10.1111/jora.13009

Hurlock, E. B. (2004). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan (Edisi ke-5). Erlangga.

Kaplan, A. M., & Haenlein, M. (2010). Users of the world, unite! The challenges and opportunities of social media. Business Horizons, 53(1), 59–68. https://doi.org/10.1016/j.bushor.2009.09.003

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2024). Ringkasan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Kompas.com. (2021, February 26). Netizen Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara, pengamat sebut ada 3 penyebab. Kompas.com.

Kompas.com. (2021, March 3). Orang Indonesia dikenal ramah, mengapa dinilai tidak sopan di dunia maya? Kompas.com.

McAlister, K. L., Beatty, C. C., Smith-Caswell, J. E., Yourell, J. L., & Huberty, J. L. (2024). Social media use in adolescents: Bans, benefits, and emotion regulation behaviors. JMIR Mental Health, 11, e64626. https://doi.org/10.2196/64626

Microsoft. (2021, February 11). Studi terbaru dari Microsoft menunjukkan peningkatan digital civility (keadaban digital) di seluruh kawasan Asia- Pacific selama masa pandemi. Microsoft News Center Indonesia.

Nur Amalia Putri, R., Rachman, A., & Setiawan, M. A. (2025). Analisis online disinhibition effect pada perilaku mahasiswa jurusan Bimbingan dan Konseling di media sosial X. Edu Cendikia: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 5(3), 1366–1375. https://doi.org/10.47709/educendikia.v5i03.7901

Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2009). Human development (11th ed.). McGraw-Hill.

Runions, K. C., & Bak, M. (2015). Online moral disengagement, cyberbullying, and cyber-aggression. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 18(7), 400–405. https://doi.org/10.1089/cyber.2014.0670

Samodra, P. B., Noviekayati, I. G. A. A., & Rina, A. P. (2022). Kecenderungan perilaku cyberbullying pada remaja pengguna media sosial: Bagaimana peran regulasi emosi? SUKMA: Jurnal Penelitian Psikologi, 3(2), 122–131. https://doi.org/10.30996/sukma.v3i2.7842

Santrock, J. W. (2019). Adolescence (17th ed.). McGraw-Hill Education.

Shadiqi, M. A. (2023). Statistik untuk penelitian psikologi dengan SPSS. Rajawali Pers.

Shafira, N., & Ardelia, V. (2025). Online disinhibition effect pada pengguna media sosial remaja. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 12(1), 563–578. https://doi.org/10.26740/cjpp.v12n1.p563-578

Steinberg, L. (2017). Adolescence (11th ed.). McGraw-Hill Education.

Stuart, J., & Scott, R. (2021). The measure of online disinhibition (MOD): Assessing perceptions of reductions in restraint in the online environment. Computers in Human Behavior, 114, 106534. https://doi.org/10.1016/j.chb.2020.106534

Sugiyono. (2023). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Suler, J. (2004). The online disinhibition effect. CyberPsychology & Behavior, 7(3), 321–326. https://doi.org/10.1089/1094931041291295

Syrjämäki, A. H., Ilves, M., Olsson, T., Kiskola, J., Isokoski, P., Rantasila, A., Bente, G., & Surakka, V. (2024). Online disinhibition mediates the relationship between emotion regulation difficulties and uncivil communication. Scientific Reports, 14, Article 30019. https://doi.org/10.1038/s41598-024-81086-7

Udris, R. (2014). Cyberbullying among high school students in Japan: Development and validation of the Online Disinhibition Scale. Computers in Human Behavior, 41, 253–261. https://doi.org/10.1016/j.chb.2014.09.036

UNICEF Indonesia. (2025). Online knowledge and practice of children in Indonesia: A baseline study 2023. UNICEF Indonesia.

World Population Review. (2026). Indonesia population 2026.

Wright, M. F. (2014). Predictors of anonymous cyber aggression: The role of adolescents’ beliefs about anonymity and norms among peers. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 17(11), 710–715. https://doi.org/10.1089/cyber.2014.0137

Downloads

Published

2026-10-01

How to Cite

Azzahra, T. N., & Kamalia. (2026). Peran Regulasi Emosi terhadap Toxic Online Disinhibition pada Remaja Pengguna Media Sosial. JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan, 5(1), 1124–1132. https://doi.org/10.71456/jik.v5i1.2621