Dampak Penggunaan Air Sungai tanpa Filter terhadap Penyakit Otomikosis

Authors

  • Nur Cahaya Kualuh* Rumah Sakit TK II Kartika Husada Pontianak
  • Moch. Salim Rumah Sakit TK II Kartika Husada Pontianak

DOI:

https://doi.org/10.71456/jik.v5i1.2752

Keywords:

Otomikosis, Air Sungai, Faktor Risiko, Higiene Telinga, Penelitian Kualitatif

Abstract

Otomikosis merupakan infeksi jamur pada liang telinga yang banyak dijumpai di wilayah beriklim tropis dengan kelembapan tinggi, dan paparan air yang tertahan di telinga selama ini dikenal sebagai salah satu faktor predisposisinya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam pengalaman, persepsi, dan pola perilaku pasien otomikosis yang menggunakan air sungai tanpa filter dalam kehidupan sehari-hari, serta memahami pandangan klinis dokter mengenai kaitan antara paparan tersebut dengan kejadian otomikosis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap 25 pasien otomikosis (P01–P25) di Rumah Sakit TK II Kartika Husada Pontianak, satu dokter spesialis THT-KL, dan satu dokter umum sebagai informan kunci. Data dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar informan menggunakan air sungai tanpa pengolahan atau hanya diendapkan sederhana, mandi setiap hari, dan sering mengalami air masuk ke telinga, yang disertai kebiasaan membersihkan telinga menggunakan cotton bud. Sebagian informan pernah mengalami kekambuhan keluhan. Persepsi informan mengenai penyebab keluhan bervariasi, sebagian menduga air sungai berperan, sebagian melihatnya sebagai kombinasi paparan air dan kebiasaan membersihkan telinga. Dokter menekankan bahwa paparan air sungai relevan secara klinis terutama melalui peningkatan kelembapan liang telinga, namun tidak dapat disebut sebagai penyebab tunggal tanpa bukti mikrobiologis yang lebih kuat, karena otomikosis bersifat multifaktorial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan air sungai tanpa filter berperan sebagai faktor paparan lingkungan yang berinteraksi dengan perilaku higiene telinga dan keterbatasan akses air bersih, sehingga edukasi menjaga telinga tetap kering dan menghindari manipulasi liang telinga menjadi strategi pencegahan yang realistis bagi masyarakat pengguna air sungai.

References

Agarwal, P., & Devi, L. S. (2017). Otomycosis in a rural community attending a tertiary care hospital: Assessment of risk factors and identification of fungal and bacterial agents. Journal of Clinical and Diagnostic Research, 11(6), DC14–DC18.

Bojanović, M., Stalević, M., Arsić-Arsenijević, V., Ignjatović, A., Ranđelović, M., Golubović, M., Živković-Marinkov, E., Koraćević, G., Stamenković, B., & Otašević, S. (2023). Etiology, predisposing factors, clinical features and diagnostic procedure of otomycosis: A literature review. Journal of Fungi, 9(6), 662. https://doi.org/10.3390/jof9060662

Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa

Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). SAGE Publications.

Hadamu, F., Bastiana, Dwiyanti, R., Asrinawati, A. N., & Pratika, M. (2025). Otomikosis: Laporan kasus. Jurnal Medical Profession (MedPro), 7(2), 108–115.

Hajioff, D., & MacKeith, S. (2015). Otitis externa. BMJ Clinical Evidence, 2015, 0510.

Kiakojuri, K., Rajabnia, R., Mahdavi Omran, S., Pournajaf, A., Karami, M., & Taghizadeh Armaki, M. (2019). Role of clotrimazole in prevention of recurrent otomycosis. BioMed Research International, 2019, Article 6395726. https://doi.org/10.1155/2019/6395726

Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. SAGE Publications.

Marlinda, L., Sapto, H., Aprilia, E., & Shara, Y. (2016). Otomikosis auris dekstra pada perenang. Jurnal Medula Unila, 6(1), 67–71.

Rismawati, L., Priatmadi, B. J., Hidayat, A. S., & Indrayatie, E. R. (2022). Hubungan pola perilaku masyarakat dan penggunaan air sungai dengan kejadian keluhan gangguan kulit di Kampung Sasirangan Kota Banjarmasin. Jurnal Vokasi Kesehatan, 8(1), 1–8. https://doi.org/10.30602/jvk.v8i1.618

Susana, E. N., Isramilda, I., & Nurjanah, I. (2024). Hubungan kebiasaan mengorek telinga dengan kejadian otomikosis pada pasien di Poliklinik THT Rumah Sakit Budi Kemuliaan Kota Batam. Vitalitas Medis: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran, 1(2), 68–80. https://doi.org/10.62383/vimed.v1i2.135

World Health Organization. (2018). Addressing the rising prevalence of hearing loss. World Health Organization.

Downloads

Published

2026-09-23

How to Cite

Kualuh, N. C., & Salim, M. (2026). Dampak Penggunaan Air Sungai tanpa Filter terhadap Penyakit Otomikosis. JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan, 5(1), 852–859. https://doi.org/10.71456/jik.v5i1.2752